Selamat Datang di Blog Manajemen Mutu SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan, Banten, 15416, Telp. (021) 74633772, website: www.onepam.com, email: sman3tangsel@yahoo.com

Tuesday, October 12, 2010

Andai Belajar Itu Makanan Lezat

Hampir semua manusia normal yang belum terjangkiti penyakit (kronis) akan suka berbicara makanan apalagi menyantapnya, kalaupun mereka tidak mau berbicara apalagi menyantap mungkin mereka sedang terkena suatu penyakit yang menyebabkan mereka harus diit.
Sebenarnya belajar itu juga makanan sedap, tetapi dalam kenyataannya sering banyak makanan yang lebih lezat dibanding makanan belajar, apalagi bidang lain (makanan) sangat bagus pengemasannya. Mereka mampu membangkitkan air liur untuk mencoba mencicipinya.
Pavlov dengan teori SAR bond dengan menggunakan anjing sebagai makhluk yang diteliti (ia agak kurang ajar karena menyamakan manusia belajar seperti anjing yang lapar), tetapi nggak apalah guru yang berhasil membuat siswanya lapar untuk belajar bagus juga! Dalam cara yang tak begitu berbeda ada Skinner dengan teori Reinforcement dan punishment. Dan masih banyak ahli psikologi belajar yang menyamakan kita dengan hewan (maaf hewan sebagai sampel penelitian ya memang kalau sampelnya hewan dan diterapkan pada manusia, maka manusia adalah anggota populasi, berarti manusia termasuk golongan hewan). Ini aliran teori belajar behavioristik yang melihat perilkaku (fisiologis) sebagai objek penelitiannya.
Sedangkan Meier lebih menyarankan mengibaratkan belajar sebagai sebuah makanan….Ada persamaan juga dengan ahli psikologi belajar behavioristik, yaitu: menggunakan makanan sebagai stimulusnya…. Nah Meier menyarankan 7 langkah cepat dalam belajar:
(1) Menentukan tujuan dan hasil yang akan dicapai. Ini penting, pebelajar yang memegang kunci tujuan yang akan dicapai ia akan mengkonsentrasikan kegiatannya untuk mencapai tujuan, sehingga terjadi kegiatan bertujuan. Tugas apa yang harus dilaksanakan untuk mencapai nilai ini. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap apa yang diperlukan embelajar untuk melaksanakan tugas ini dengan berhasil.
(2) Merencanakan makanan utama. Ini adalah tahap latihan atau tahap penyampaian pelatihan. Karena ini menu utama, maka guru dan orang tua harus pandai-pandi mengemasnya supaya makanan utama ini diminati anak. Bagaimana kita bisa mengajak pembelajar terlibat penuh dalam pembelajaran mereka sendiri. Bagaimana kita menyesuaikan dengan gaya belajar setiap siswa.
(3) Merencanakan makanan pembangkit (tahap persiapan). Ini sebenarnya dilakukan sebelum program dimulai atau boleh dikatakan tahap dimana guru dan orang tua sebelum pembelajaran dimulai dilakukan pembangkitan semangat belajar. Caranya: bisa dengan mendiskusikan bahwa apa yang dipelajari anak itu sangat bermanfaat. Sampaikan manfaatnya dulu, tahap urgensinya materi itu dikuasai, barulah menawarkan apakah siswa/anak tertarik mempelajarinya. Bagaimana guru menyiapkan lingkungan fisik yang positif, pengaturan ruangan, music, dekorasi, penciptaan komunitas belajar sejak awal, dorongan-dorongan positif, bagaimana menyingkirkan rintangan.
(4) Merencanakan makanan pencuci mulut. Ini adalah tahap penampilan hasil belajar yang disampaikan anak setelah akhir program atau setelah program belajar. Tidak ada yang salah ini perlu ditanamkan, tetapi ada hadiah bagi yang terbaik. Yang kurang baik kita sempurnakan itupun dengan meminta mereka mau tidak memperbaiki dan bagaimana cara mempebaiki. Bagaimana pembelajar dapat memperkuat dan menerapkan pembelajaran pada situasi yang berbeda, bagaimana meningkatkan program belajar!
(5) Memasak makanan. Adalah upaya memoles dan mengurutkan langkah 2-4 dan mengumpulkan materi. Tentukan rancangan pembuka final, evaluasi dan saringlah struktur kita dalam melaksanakan pembelajaran serta kembangkan dan kumpulkan materi yang akan dibutuhkan.
(6) Menyajikan makanan. Ini adalah penyampaian program. Bagaimana menarik perhatian, membangkitkan motivasi, merangsang aktivitas, dan sebagainya.
(7) Menyempurnakan makanan. Dalam pembelajaran kita mengenal tahap konfirmasi. Di sinilah guru menyempurnakan berdasar evaluasi dan berdasar evaluasi ini kita bisa menyempurnakan hasil belajar siswa. Kita juga mengevaluasi akhir program, apakah program sesuai dengan selera anak, menarik, atau malah membosankan, dan kita bisa merencanakan program lain yang lebih menarik.

Sunday, September 26, 2010

Pengembangan Modul Sebagai Bahan Ajar

Modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik perhatian siswa  yang mencakup materi, metode, perangkat latihan dan instrumen evaluasi yang dapat digunakan sebagai perangkat belajar secara mandiri.
Perangkat materi pelajaran ini disusun untuk untuk siswa gunakan secara mandiri sehingga mereka dapat belajar sesuai dengan kapasitas dirinya. Oleh karena itu, modul memiliki ciri khas stand alone yaitu tidak tergantung pada media lain.  Pengembangannya harus memenuhi kebutuhan belajar siswa, memudahkan pemakai untuk belajar.
Agar siswa tertarik untuk mempelajarinya maka materi modul harus up to date dan kontekstual, disajikan dalam unit-unit kecil, dilengkapi dengan contoh-contoh, ilustrasi yang jelas dan menarik. Untuk melengkapi kebutuhan belajar siswa maka modul sebaiknya dilengkapi dengan rangkuman materi, soal-soal latihan,  tugas, dan instrumen evaluasi yang membangkitkan minat siswa belajar.
Instrumen penilaian harus membuka kemungkinan siswa melakukan self mengukur kemampuan sendiri. Bahasa yang digunakan harus komunikatif dan mudah siswa pahami. Modul harus dilengkapi juga dengan referensi yang mendukung materi  sebagai sumber belajar siswa lebih lanjut.
Pengorganisasian naskah juga perlu diperhatikan dengan seksama agar siswa tertarik untuk mempelajarinya. Agar  siswa memahami materi secara menyeluruh perlu menampilkan:
  • Peta konsep materi
  • Susunan materi dan perangkat lain sistematis
  • Menempatkan naskah, gambar, ilustrasi, dan evaluasi disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
  • Stuktur naskah mudah dipahami
  • Urutan perngkat modul mengikuti standar.
  • Bahasa yang digunakan sesuai dengan kemampuan siswa untuk memahaminya secara mandiri.
Kerangka Isi Modul
Struktur modul secara keseluruhan pada umumnya terdiri atas kerangka isi sebagai berikut.
  • Halaman Sampul
  • Halaman Francis (Halaman setelah sampul yang menggambarkan isi modul secara sangat ringkas agar tiap orang tertarik untuk membaca lebih lanjut, biasanya menggunakan ilustrasi yang dapat menarik perhatian pembaca)
  • Kata Pengantar
  • Peta Modul ( Dalam konteks mata pelajaran)
  • Daftar Isi
  • Isi Modul (Tujuan, Metode, Materi, Contoh, Ilustrasi, Gambar, Latihan, Evaluasi)
  • Glosarium
Kerangka Isi Modul (75)