http://gurupembaharu.com/home/?p=535
Poros utama meningkatnya mutu sekolah diukur dengan mutu lulusan. Selama ini banyak sekolah berkeyakinan bahwa lulusan yang bermutu pasti datang dari input yang bermutu. Namun sejalan dengan perkembangan pengetahuan hasil penelitian terbaru, ternyata yang jauh lebih menentukan bukan input melainkan proses yang bermutu. Selama ini pula banyak pendidik yang membangun keyakinan bahwa rendahnya mutu lulusan karena iniputnya yang rendah. Pikiran itu merendahkan martabat siswanya sendiri. Kalau sekolahnya belum berhasil menghasilkan lulusan yang terbaik, berdasarkan penelitan mutahir bukan karena siswa saja, tapi mungkin karena pelayanan sekolahnya yang belum bermutu, sekali pun input siswa berpengaruh juga.Buah pikiran Keith Wagoner seorang konultan senior sebuah bank di Amerika mendeskrisikan betapa pentingnya proses dalam tulisannya Quality: Developing Process Metrics. Keith menyampaikan informasi bahwa The Baldrige National Quality Award (BNQA) sebuah lembaga yang peduli pada penghargaan mutu menempatkan pengukuran proses untuk mengasilkan out put yang baik pada derajat yang tertinggi dibandingkan dengan perhatian terhadap komponen lain.
Analisis kinerja organisasi sangat bergantung pada nilai kreasi dalam proses, sekali pun input lain tentu tidak dapat diabaikan pengaruhnya. Besarnya pengaruh proses terhadap hasil ditunjukkan dengan nilai 7,0. Hal itu menyatakan bahwa variabel proses menjadi komponen utama penentu mutu hasil. Pernyataan ini menegaskan bahwa mutu yang baik lahir dari proses yang baik. Input yang bagus itu penting, namun jauh lebih penting lagi proses yang baik.Dinyatakannya lebih jauh bahwa efektivitas proses merupakan bagian utama dari peningkatan mutu. Pada akhirnya, pengukuran proses yang dilakukan bersama merupakan upaya untuk melihat mutu proses merupakn bagian dari strategi organisasi yang sangat menentukan.
Melalui pemikiran Keith kita mengetahui bahwa pikiran pengelola pendidikan menempatkan mutu input sebagai penentu utama merupakan persepsi yang berbeda dengan filosofi yang digunakan BNQA maupun ISO dalam pengukuran mutu. Yang perlu dikaji lebih lanjut adalah apakah yang dimaksud dengan proses itu.
Prof. Deming menggambarkan proses peningkatan dan penjaminan mutu atau disebut juga dengan pengendalian mutu itu dalam proses yang berkelanjutan, tanpa ujung, tiada hentinya. Proses digambarkan dalam diagram seperti di bawah ini.

Plan (perencanaan) meliputi tiga sub proses yaitu (1) mendefiniskan sistem, (2) menggambarkan situasi dan kondisi (3) menganalisis sebab akibat yaitu melakukan analisis tentang mengapa keadaan nyata satu sekolah itu seperti itu. Strategi inti dalam merumuskan definisi sistem adalah karakteristik utama yang menandai terpacapainya tujuan.
Manusia atau lulusan seperti apa yang hedak sekolah bangun, memiliki karakteristik seperti yang bagaimana? Jika hendak mengembangkan manusia yang beriman, bertaqwa, sehat, berpengetahuan, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka apa yang menjadi ciri-cirinya.
Perhatikan indikator mutu seperti apa yang sekolah harapkan. Dalam bentuk prilaku. Dapat diamati. Dapat dinilai atau diukur sehingga sekolah dapat membedakan manakah yang agak baik, baik, dan sangat baik. Contoh output yang baik siswa hormat kepada guru indikatornya dengan senyum, salam, dan sapa. Prestasi dengan indikator hasil kejuaraan dari mulai kompetisi di kelas, tingkat sekolah, tingkat kebupaten, provinsi dan seterusnya.
Indikator mutu utama sebagaimana konsekuensi dari filosofi proses itu penting, maka mutu dapat dilihat pada dua dimensi. Yaitu dimensi proses dan dimensi out put. Dasar pemikiran ini memandu langkah selanjutnya, jika indikator hasil atau kompetensi lulusan jelas, maka penjelasan berikutnya yang penting adalah bagaimana proses pengembangannya akan dilaksanakan?
Untuk keperluan itu sekolah perlu mendeskripsikan terlebih dahulu hasil apa yang sudah dapat sekolah wujudkan, melalui proses seperti apa. Pernyataan ini idealnya diwujudkan dalam bentuk dokumen situasi dan kondisi sekolah berenupa:
- gambaran kondisi nyata

- gambaran kondisi yang diketahui
- gambaran kondisi yang diharapkan.
Hasilnya menunjukkan bahwa menurut siswa tingkat kehadiran guru mencapai 76,4%, komitmen memeriksa hasil pekerjaan siswa 84,4 %, dan publikasi hasil pemerikasaan mencapai 76,4%. Baikkah semua itu? Jawabannya sangat bergatung pada target awal yang ditetapkan sekolah dalam perencanaan sebelumnya. Apabila sekolah dalam rencanya menetapkan nilai yang amat baik itu dari 85% ke atas, maka kinerja guru menurut pandangan siswa tak mecapai kriteria amat baik.
Jika dalam kasus di atas dinyatakan bahwa dalam kinerja kehadiran, pemerikasaan hasil pekerjaan, dan disiplin mengumumkan nilai pekerjaan siswa belum memenuhi kriteria baik itu menandakan dalam posisi analisis SWOT dalam ketiga indikator itu masuk dalam kategori kelemahan.Kalau demikian berapa target atau standar yang sekolah tetapkan dalam ketiga indikator itu, sangat bergantung pada kesepakatan sekolah.
Pekerjaan berikutnya dalam mengembangkan perencanaan sekolah perlu melakukan studi untuk merumuskan profil sekolah yang ditempatkan dalam konsep analsis SWOT dalam rangka menentukan indikator mutu, target mutu, jenis kegiatan yang akan dilakukan, dan menentukan insturmen pengukuran untuk menjamin proses dan hasil sesuai dengan harapan.
Do (pelaksanaan). Sekolah melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana. Kegiatan menurut Demin memilahnya dalam uji coba dan pelaksanaan kegiatan yang sesungguhnya. Pelaksanaan merupakan serangkaian proses yang sistematis untuk mencapai tujuan.
Studi (melakukan pengamatan atau supervisi). Kegiatan studi ini pada prinsipnya merupakan proses untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepastian bahwa proses yang sedang berlangsung mengarah pada tercapainya tujuan.
Dalam perencanaan lembaga menetapkan tujuan, indikator pencapaian, dan kriteria mutu atau target. Sekolah dalam penyelenggaraan kegiatan hendaknya mengukur tingkat pencapaian. Untuk itu diperlukan
- proses monitoring
- alat ukur atau instrumen pengukuran,
- pelaksanaan pengukuran,
- pengolahan data hasil pengukuran,
- penafiran data
- penyusunan kesimpulan hasil pengukuran
- mempelajari keunggulan mutu yang sudah terwujud atau kekuatan
- mempelajari mutu yang belum terwujud atau kelemahan
- menyusun rencana perabaikan.
Serangkaian kegiatan studi untuk meningkatkan kepastian bahwa seluruh rangkaian proses mengarah pada pencapaian tujuan adalah proses penjaminan mutu.
Act (tindakan perbaikan standar dan tindak lanjut perbaikan mutu) Langkah berikutnya dari rangkaian siklus peningkatan dan perbaikan mutu adalah menindaklanjuti hasil evaluasi atau studi dengan tindakan perbaikan agar tujuan dapat dicapai.
Dengan mempergunaan hasil evaluasi sebagai dasar tindak lanjut, maka perencanaan berikutnya dapat dilakukan untuk memasuki siklum perbaikan berikutnya.
Referensi:
http://www.ism.ws/files/Pubs/Proceedings/DKWagoner.pdf



No comments:
Post a Comment